Pasti kalian tidak asing dengan kata "keluarga". Ya, Keluarga atau famili adalah sekelompok orang yang terikat dengan hubungan darah, ikatan kelahiran, hubungan khusus, pernikahan, atau yang lainnya. Mereka bisa kalian temui setiap hari, baik di lingkungan rumah ataupun lingkungan sosial.
Kehidupan di usia dini sampai dewasa, keluarga sangat berperan aktif dalam menjaga, baik itu menjaga kesehatan, perlindungan ataupun berupa pemberian cinta dan kasih sayang yang diberikan. Namun, tidak semua anak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya.
Disini penulis akan berbagi cerita masa kecil yang kurang beruntung.
Pada suatu masa lahirlah anak perempuan, dia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dari tiga bersaudara itu, dialah anak perempuan satu-satunya dan dua diantaranya adalah laki-laki. Dan merupakan keluarga termiskin di salah satu kampung, sebutlah kampung durin.
Mereka hidup berlima disebuah gubuk yang tidak layak pakai karena memiliki banyak lubang kebocoran pada atap serta dinding-dinding yang memiliki sekat-sekat kecil hingga terasa angin malam dan derasnya hujan.
Dan suatu hari si anak perempuan itu sekolah, anak tersebut sekolah dengan menempuh jarak 15 km dari tempat tinggal dengan berjalan kaki. Di sekolah, ia juga tidak memiliki teman akrab dikarenakan sifatnya yang pemalu dan segan berteman karena latar belakang orangtuanya. Hari-hari telah ia lewati di sekolah tidak pernah satu kata pun keluar dari mulutnya dan tidak pernah ia kedapatan pergi ke warung.
Pada suatu ketika, ketika gurunya mengajarkan matematika, ia selalu ditunjuk untuk mengerjakan karena gurunya takut kalau si anak akan susah beradaptasi saat dewasa nanti. Perlahan-lahan si anak mulai terbuka kepada teman-teman di kelas dan gurunya. Sehingga gurunya lah yang kadang mengajak si anak tersebut bercerita apa yang sedang dia alami dan bagaimana kondisi dia saat ini?. Kemudian si anak menceritakan semua kepada gurunya sehingga, si guru hanya bisa memotivasi di anak dengan cara selalu mengajarkan kepadanya bahwa hidup tidaklah mudah dan jika ingin mengubah nasib maka berusahalah semaksimal mungkin.
Setelah ia curhat dengan gurunya, dia merasa tenang dan bahagia ternyata masih ada yang peduli dengannya dan tidak merendahkan statusnya saat ini. Dan dia telah rajin belajar hingga mencapai peringkat 10 besar di setiap semester.
Kemudian anak tersebut telah lulus dan sekarang dia telah menempuh Pendidikan Tinggi di salah satu kampus dengan beasiswa yang selalu ia terima setiap enam bulan sekali.
Terlihat lingkungan yang keluarganya tempati selalu merendahkan keluarga mereka bahkan saat orangtuanya berbicara selalu saja diabaikan dan tidak pernah didengarkan apalagi di bantu. Seakan-akan kehidupan mereka itu membawa bencana bagi orang-orang kampung. Sedangkan mereka tidak pernah mengusik tetangga yang lain. Tetapi masih saja di lihat salah Dimata mereka.
Dari sini kita belajar bahwa tekanan hidup membuat kita semakin kuat dan berani membuktikan bahwa kita bisa. Tidak bisa selalu berharap kepada keluarga, teman, sahabat serta orang lain karena berharap kepada manusia akan mendatangkan kekecewaan bahkan keterpurukan. Belajar lah selalu menerima apa yang telah ditakdirkan dan berusaha lah saat dirimu ingin menjadi orang sukses, janganlah kamu membandingkan hidupmu dengan orang lain. Cukuplah dirimu sebagai cerminan dalam prosesmu.